Wednesday, 31 May 2017 12:10

Pengertian Fire Alarm System, Control Panel, Smoke Detector

Written by
Rate this item
(5 votes)

Sistem pengindera api Fire Alram atau yang umum dikenal dengan fire alarm system adalah suatu sistem terintegrasi yang didesain dan dibangun untuk mendeteksi adanya gejala kebakaran, untuk kemudian memberi peringatan (warning) dalam sistem evakuasi dan ditindak lanjuti secara otomatis maupun manual dengan sistem instalasi pemadam kebakaran ( fire fighting System ).

sistem alarm kebakaran atau fire alarm memberikan akurasi yang tak terkalahkan dalam kemudahan penggunaan untuk proteksi  bangunan bertingkat, installer, dan petugas pemadam kebakaran. Semua fitur yang diracang sangat simple sehingga membuat anda mudah dalam mengoperasikanya, sistem kami  dirancang untuk jangka waktu yang lama. Dengan sistem yang fleksibel, dan fitur hemat instalasi sehingga mengurangi biaya. Sistem alarm kebakaran KAMI memberi perlindungan yang tidak pernah anda perhitungkan.

Untuk memenuhi kebutuhan anda kami menyediakan produk dengan beberapa merk ternama dalam industri fire alarm, kami meyediakan produk antara lain Hochiki, Horing Lih, Notifier, Hong Chang, Hoseeki, Bosch. Untuk semua produk yang kami tawarkan kami memberikan layanan purna jual, sehingga anda tidak perlu kawatir atas layanan setelah produk produk yang anda beli terpasang. Dengan dukungan tenaga ahli yang terlatih dan berpengalaman serta harga yang kompetitif Bromindo siap melayani kebutuhan anda dari perencanaan, instalasi, hingga perawatannya. Kami siap melayani anda dari awal hingga akhir proyek .

Komitmen kami adalah memastikan proyek anda tepat waktu dan on budget. Untuk mendapatkan fungsi maksimal fire alarm, Kami memberikan layanan kontrak servis atas produk yang telah terpasang, dalam layanan ini secara berkala fire alarm di cek dan dicoba baik jaringan dan kelengkapannya mulai dari Master Control Fire Alarm ( MCFA ), Heat Detector, Smoke Detector, Flame Detector, beserta sub panel nya.

Pengertian Fire Alarm

Fire Alarm System adalah Sebuah sistem alarm kebakaran otomatis dirancang untuk mendeteksi keberadaan yang tidak diinginkan dari api dengan memonitor perubahan lingkungan yang terkait dengan pembakaran. Secara umum, sistem alarm kebakaran diklasifikasikan sebagai baik secara otomatis ditekan, ditekan secara manual, atau keduanya. Sistem alarm kebakaran otomatis dimaksudkan untuk memberitahukan kepada penghuni bangunan untuk mengevakuasi jika terjadi kebakaran atau darurat lainnya, melaporkan peristiwa tersebut ke lokasi off-tempat dalam rangka untuk memanggil layanan darurat, dan menyiapkan struktur dan sistem yang terkait untuk mengontrol penyebaran api dan asap. Fire Alarm dikenal memiliki 2 (dua) sistem, yaitu: 1. Sistem Konvensional. 2. Sistem Addressable. Sistem Konvensional: yaitu yang menggunakan kabel isi dua untuk hubungan antar detector ke detector dan ke Panel. Kabel yang dipakai umumnya kabel listrik NYM 2x1.5mm atau NYMHY 2x1.5mm yang ditarik di dalam pipa conduit semisal EGA atau Clipsal. Pada instalasi yang cukup kritis kerap dipakai kabel tahan api (FRC=Fire Resistance Cable) dengan ukuran 2x1.5mm, terutama untuk kabel-kabel yang menuju ke Panel dan sumber listrik 220V. Oleh karena memakai kabel isi dua, maka instalasi ini disebut dengan 2-Wire Type. Selain itu dikenal pula tipe 3-Wire dan 4-Wire. Pada 2-Wire Type nama terminal pada detectornya adalah L(+) dan Lc(-). Kabel ini dihubungkan dengan Panel Fire Alarm pada terminal yang berlabel L dan C juga.Hubungan antar detector satu dengan lainnya dilakukan secara parallel dengan syarat tidak boleh bercabang yang berarti harus ada titik AWAL dan ada titik AKHIR. Titik akhir tarikan kabel disebut dengan istilah End-of-Line (EOL). Di titik inilah detector fire terakhir dipasang dan di sini pulalah satu loop dinyatakan berakhir

Di lapangan, dikenal 3 sistem pendeteksian dan pengendalian, yaitu :

1. Non addressable system.

Sistem ini disebut juga dengan conventional sistem. Pada sistem ini MCFA menerima sinyal masukan langsung dari semua detektor (biasanya jumlahnya sangat terbatas) tanpa pengalamatan dan langsung memerintahkan komponen keluaran untuk merespon masukan tersebut. Sistem ini umumnya digunakan pada bangunan / area supervisi berskala kecil, seperti perumahan, pertokoan atau pada ruangan-ruangan tertentu pada suatu bangunan yang diamankan.

 

2. Semi addressable system

Pada sistem ini dilakukan pengelompokan / zoning pada detektor & alat penerima masukan berdasarkan area pengawasan (supervisory area). Masing-masing zona ini dikendalikan ( baik input maupun output ) oleh zone controller yang mempunyai alamat / address yang spesifik. Pada saat detektor atau alat penerima masukan lainnya memberikan sinyal, maka MCFA akan meresponnya (I/O) berdasarkan zone controller yang mengumpankannya. 

 

Dalam konstruksinya tiap zona dapat terdiri dari :

a. satu lantai dalam sebuah bangunan / gedung.

b. beberapa ruangan yang berdekatan pada satu lantai di sebuah bangunan / gedung.

c. beberapa ruangan yang mempunyai karakteristik tai di sebuah bangunan / gedung.

 

Pada display MCFA akan terbaca alamat zona yang terjadi gejala kebakaran, sehingga dengan demikian tindakan yang harus diambil dapat dilokalisir hanya pada zona tersebut.

 

3. Full addressable system.

Merupakan pengembangan dari sistem semi addressable. Pada sistem ini semua detector dan alat pemberi masukan mempunyai alamat yang spesifik, sehingga proses pemadaman dan evakuasi dapat dilakukan langsung pada titik yang diperkirakan mengalami kebakaran.

 

Untuk komponen utama sistem fire alarm terdiri dari :

1. MCFA ( Main Control Fire Alarm )

MCFA merupakan peralatan utama dari sistem protection. MCFA berfungsi menerima sinyal masuk (input signal) dari detector dan komponen proteksi lainnya (fixed heat detector, smoke detector, ROR heat detector, dll).

 

2. Alat Pendeteksi.

Alat pendeteksi atau detector adalah alat yang berfungsi sebagai alat penerima masukan yang bekerja secara otomatis. Jenis detector kebakaran ini terbagi menjadi 4 macam yaitu:

• Detektor Panas (Heat Detector).

• Detektor Asap (Smoke Detector).

• Detektor Api (Flame Detector).

• Detektor Gas (Fore Gas Detector).

• Detektor Panas (Heat Detector).

Detektor kebakaran adalah suatu alat yang berfungsi mendeteksi secara dini  kebakaran, agar kebakaran yang terjadi tidak berkembang menjadi lebih besar. Dengan terdeteksinya cikal bakal kebakaran, maka intervensi untuk mematikan api dapat segera dilakukan. Sehingga dapat meminimalisasi kerugian sejak awal.

Jika dianalogikan detektor kebakaran adalah alat bantu seperti panca indera kita. Untuk merasakan bau kita memiliki hidung, kalau untuk merasakan adanya kebakaran digunakanlah detektor kebakaran. Deteksi kebakaran dilakukan pada kemunculan asap, kemunculan panas, dan adanya kobaran api, berdasarkan hal itu detektor kebakaran dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :Smoke Detector, atau detektor asap adalah alat yang berfungsi mendeteksi asap.Ketika detektor mendeteksi asap maka detektor akan segera mengirimkan sinyal sehingga fire alarm berbunyi. Smoke detektor sendiri memiliki beberapa type kerja :

Photoelectric / optical ; mendeteksi asap menggunakan sensor cahaya. cahaya (infra red) diarahkan ke sensor photoelectric, apabila ada asap maka cahaya tidak sepenuhnya diterima sensor photoelectric. kejadian ini ditangkap sebagai sinyal yang kemudian diteruskan ke fire alarm. Dari pengalaman lapangan diketahui kelemahan dari detektor ini adalah sering kali menimbulkan false alarm yang diakibatkan oleh debu.Ionization; detektor model ini menggunakan metode ionization chamber. kelemahan dari detektor ini adalah setelah habis umur pakainya, detektor dikategorikan limbah radioaktif, karena didalam detektor ini terdapat ameresium.

Heat Detctor, berfungsi mendeteksi terjadinya perubahan energi thermal (panas) yang diakibatkan oleh adanya api. Detektor panas memiliki dua type yaitu detektor dengan batasanan suhu yang tetap, dan detektor yang mendeteksi peningkatan suhu secara seketika.Flame Detector, berfungsi mendeteksi adanya kobaran api, memiliki tiga jenis type yaitu sensor optik, ionisasi dan thermocouple.

Detektor Asap (Smoke Detector)

Detektor asap kebakaran adalah suatu alat yangerlindungan terhadap sebuah gedung terutama untuk gedung yang luas dan bertingkat-ingkat memang harus melalui perlindungan ekstra. Peralatan proteksi yang dibutuhkan pun juga sebaiknya dilengkapi, apalagi jika memiliki beberapa ruangan yang memiliki kecenderungan bergumul dengan suasana yang berbeda, misalnya saja untuk tempat cenderung panas maka dibutuhkan detektor panas dengan setting ambang tertentu sehingga dapat mendeteksi jika terjadi adanya penyimpangan dan sebagainya. Untuk itulah pada artkel ini kita akan membahas tentang detektor asap dan panas sehingga Anda mengetahui masing-masing kerjanya.

Pengertian Detektor Asap dan Panas

Detektor asap atau biasa disebut smoke detector merupakan alat yang berfungsi endeteksi asap saat terjadinya kebakaran. Penggunaan detektor asap ini biasanya pada kantor, rumah sakit, gedung bertingkat-tingkat, pabrik-pabrik dan masih banyak lagi. Detektor asap sendiri terdiri dari beberapa macam yaitu detektor ionisasi, fotolistrik dan detektor asap rokok. Saat asap mulai masuk ke detektor inilah yang kemudian menjadi indikasi terjadinya kebakaran.

Detektor panas atau yang biasa disebut dengan heat detector adalah yang memiliki fungsi mendeteksi perubahan energi thermal didalamnya dari panas api yang terjadi saat kebakaran. Detektor panas ini dapat mendeteksi panas dengan batasan tertentu dan mendeteksi adanya peningkatan suhu seketika. Biasanya pada suhu antara 50oC sampai 63oC, detektor ini bisa mengaktikan alarm bell. Alat ini cocok jika digunakan pada rumah sakit, hotel, ruang arsip, gudang, rumah, ruang kerja dan sebagainya.

Prinsip Kerja Detektor Asap dan Panas

sebuah detektor asap dan panas memiliki prinsip kerja yang berbeda, hal ini disebabkan oleh komponen dan tujuan yang diguanakan berbeda. Untuk penjelsannya masing-masing adalah sebagai berikut.

Kerja detektor asap yaitu berdasarkan kepadatan asap yang masuk di dalamnya. Detektor asap ini memiliki dua type yaitu 2 wire dan 4 wire. Dimana pada 2 wire, catu daya listriknya di supplai dari master control fire alarm yabf bersamaan dengansinyal fire alarm sehinga hanya butuh 2 kabel saja. Sedangkan pada 4 wire tegangannya diperoleh dari dua kable yang memiliki plus minus pada control alarm dan dua kabel sisa lainnya untuk sinyal. Saat kepadatan asap masuk dan memenuhi ambang kbatas, maka akan mngektifkan rangkaian elektrnik detektor ini sebab rangkaian ini membutuhkan tegangan. Detektor asap juga memiliki 2 tipe yang bekerja dengan cara yang berbeda, yaitu sebagai berikut.

Detektor Photoelectric, alat yang bekerja menggunakan sensor cahaya dan dirahkan pada sensor photoelectric. Dari inilah maka alat akan menerjemahkan dalam bentuk sinyal dan kemudian diteruskan ke fire alarm. namun detektor ini memiliki kelemahan yaitu kadang menumbulkan falase alarm oleh debu atau kotoran yang berda di sekitarnya sehingga bunyi alarm kadang menimbulkan kepanikan kepada penggunanya.

Detetor Ionization, alat ini bekerja menggunakan metode ionization chamber. Kelemahan penggunakan detektor jenis ini memiliki dampak yang kurang baik pada lingkungan karena dipercaya menimbulkan radioaktif meskipun penggunaannya sesuai ambang yang telah sesuai. Setelah umur pemakaiannya usai, alat ini dikategorikan sebagai limbah radioaktif sebab didalamnya terdapat ameresium.

Sedangakan prinsip kerja detektor panas yakni dari saklar bimetal. Saklar ini akan teradi kontak saat panas memasuki detektor dan terdeteksi panas. Pemasangannya di rumah yaitu dengan memasukkan dua kabelnya ke terminal zone-com di dalam panel alarm yang bertuliskan L dan LC. Kedua kabel tidak memiliki plus-minus sehingga pemsangannya boleh terbalik dan sifat kontaknya yaitu NO (normally open). Selain juga masih ada detektor panas type 4 wire, dimana detektor jenis ini dapat diintegrasikan pada panel alarm yang telah dilengkapi dengan autoreset saat trigger alarm digunakan. Desainnya pun juga tampak stylish sehingga cocok diletakkan di Gedung hotel, apartemen, kantor, mall dalam interior yang berbeda-beda.

 

Itulah tadi penjelasan tentang detektor asap dan panas, dari uraian di atas semoga memberikan pengetahuan kepada Anda dalam mememilih jenis detektor yang paling tepat untuk bangunan yang Anda miliki. Sehingga kerja alat detektor pun dapat lebih aksimal lagi.

Detektor Api (Flame Detector)

Pada artikel ini kita akan membahas tentang Jenis-jenis Sensor Pemadam Kebakaran yang umum digunakan dalam sistem pemadam api atau fire system.

Peran sensor api (fire sensor) pada sistem pemadam kebakaran merupakan suatu integrasi sistem dalam mendeksi potensi terjadinya risiko kebakaran besar serta memberikan peringatan atau alert system ketika risiko kebakaran tersebut muncul.

Beberapa hal yang dianggap potensi terjadinya kebakaran diantaranya munculnya asap, terjadinya kenaikan suhu/panas, timbulnya percikan api, perubahan warna permukaan, dan adanya gas-gas tertentu yang dapat menyebabkan timbulnya kebakaran.

Dari beberapa potensi kebakaran diatas maka jenis pengindera atau sensor yang biasa digunakan dalam Fire alarm system dikelompokan dalam:

Sensor panas (Heat Detector)

Sensor percikan api (Flame Detector)

Sensor gas (Gas Detector)

Sensor warna/citra (Images sensor)

Sensor api secara sistem kerja memiliki 2 jenis:

Stand alone Fire Detector: detektor api yang berdiri sendiri, yaitu bekerja mendeteksi potensi kebakaran dan memberikan peringatan baik alarm suara atau lamp. Biasanya catu daya atau power supply menggunakan batere.

Integrated Fire Detector: detektor api yang terhubung ke panel kontrol sistem pemadam api atau fire system. Begitu terdapat potensi kebakaran, sensor akan memberikan alert pada fire system, dan akan membuat sistem siaga atau menjalankan fungsi pemadaman kebakaran. Sistem integrasi ke fire system dapat menggunakan metode koneksi konvensional (wire connections) dan Addressable . Lebih lanjut akan kita bahas dalam artikel selanjutnya.

Sensor asap (Smoke Detector)

Sebuah smoke detector akan mendeteksi intensitas asap pada suatu ruangan. Smoke detector bekerja menggunakan beberapa metode deteksi diantaranya:

Optical Smoke Detector: Mendeteksi asap berdasarkan kerapatan cahaya. Penggunaan LED dan Photo Transistor cukup umum digunakan pada jenis ini

Ionization Smoke Detector: Mendeteksi asap berdasarkan proses ionisasi pada radioisotop (radioisotope). Asap akan terbawa di udara dan menyebabkan isotop terionisasi sehingga memicu alarm. Jenis isotop yang biasa digunakan adalah americium 421.

Carbon monoxide dan carbon dioxide Smoke Detector: Jenis sesor asap yang mendeteksi konsentrasi CO atau CO2 di udara. Sensor ini lebih fokus pada asap tidak kasat mata/ tidak terlihat yang dapat membahayakan manusia akibat kebakaran yang mungkin tidak terlihat namun berakibat sangat fatal pada kesehatan.

Sensor panas (Heat Detector)

Sensor panas akan mendeteksi perubahan panas di suatu ruangan dengan perubahan bentuk atau konduktivitas benda pada sensor karena perubahan panas tersebut.

Sensor panas memiliki dua (2) klasifikasi sistem kerja:

Fixed temperature heat detectors: Bekerja berdasarkan perubahan bentuk komponen sensor dari padat menjadi cair. Pada jenis sensor ini digunakan heat sensitive eutectic alloy, yaitu campuran zat kimia yang akan berubah bentuk pada suhu tertentu atau eutectic point. heat sensitive eutectic alloy secara mudah dapat dicontohkan seperti timah atau Tin (Sb) yang akan mencair pada suhu penyolderan. Begitu pencairan ini terjadi maka sensor akan bekerja untuk menggerakan alarm.

Rate-of-Rise (RoR) heat detectors: bekerja berdasarkan efek perubahan bentuk yang cepat pada benda, biasanya logam. Prinsip kerja ROR sebenarnya hanya saklar bi-metal biasa. Saklar akan kontak saat mendeteksi panas yang cukup. Bimetal yang berubah bentuk dapat dijadikan saklar yang memberikan tegangan listrik ke alarm.

Sensor percikan api (Flame Detector)

Flame detektor akan bekerja untuk mendeteksi bila terjadi percikan api di suatu area pantauannya. Biasanya bekerja berdasarkan perubahan warna atau cahaya (optical sensor) dan ionisasi di suatu area yang berpengaruh pada sensor.

Jenis Flame Detector yang bekerja dengan sistem optical sensor:

Ultraviolet (UV) Flame Detector:

bekerja dengan panjang gelombang lebih pendek dari 300 nm. Detektor ini mendeteksi kebakaran dan ledakan dalam waktu 3-4 milidetik karena radiasi UV yang dipancarkan pada saat terjadi percikan api.Near Infrared Array Flame Detectors: juga dikenal sebagai detektor api visual, menggunakan teknologi pengenalan api untuk mengkonfirmasi timbulnya api dengan menganalisis dekat radiasi IR melalui array pixel dari sebuah charge-coupled device (CCD).

Infrared (IR) Flame Detectors: detektor api yang bekerja dalam spektrum pita inframerah. Gas panas memancarkan pola spektrum tertentu di wilayah inframerah, yang dapat dirasakan dengan kamera thermal imaging khusus (TIC), jenis kamera ini dikenal juga sebagai kamera thermographic 

IR3 flame detectors: bekerja dengan membandingkan tiga band panjang gelombang tertentu dalam IR wilayah spektrum dan rasio mereka satu sama lain. 

Ionization current flame detection

Untuk Jenis flame detection yang menggunakan ionisasi dikenal sebagai Ionization current flame detection. Sistem ini bekerja dengan mengukur intensitas ionisasi dalam api. Jenis sesor ini biasanya digunakan dalam proses pemanas gas di industri besar yang terhubung ke sistem kontrol api dan bertindak baik sebagai monitor kualitas api dan perangkat fire system.

Sensor gas (Gas Detector)

Thermocouple flame detection

 

Termokopel digunakan secara ekstensif untuk memantau keberadaan api dalam sistem pembakaran pemanas  dan kompor gas. Umumnya digunakan sebagai pencegahan bahaya untuk memotong pasokan bahan bakar bila nyala api tidak dapat dikendalikan. Hal ini untuk mencegah bahaya ledakan dan kebakaran atau bahaya sesak napas di ruang tertutup karena tipisnya oksigen.

 

• Detektor Gas (Fore Gas Detector).

Dalam beberapa bencana terkait industri yang terjadi dewasa ini, kebocoran gas merupakan salah satu penyebab kerugian paling parah karena sifatnya yang berbahaya bagi keselamatan manusia. Kurangnya peringatan dini dari segi kesigapan dan alat berpotensi membuat hal-hal fatal terjadi. Untuk itulah, diperlukan sebuah gas detector sebagai bagian dari sistem keamanan.

Pengertian Gas Detector

Gas Detector merupakan suatu alat yang digunakan untuk mendeteksi (mengetahui) keberadaan gas. Umumnya, alat ini digunakan di tempat yang rawan terjadi kebocoran gas, misalnya di pabrik, lokasi pertambangan, dan kilang minyak.

Dalam konteks pencegahan dampak buruk kebocoran gas, gas detector dapat berfungsi melalui dua cara. Pertama, gas detector dipasang terhubung dengan control system sehingga mesin atau alat tertentu langsung berhenti berfungsi secara otomatis sesaat setelah gas detector mendeteksi terjadinya kebocoran gas. Kedua, gas detector dapat pula memberikan tanda peringatan berupa bunyi alarm atau lampu yang menyala pada saat kebocoran gas terjadi sehingga orang yang berada di area tersebut mendapatkan peringatan untuk segera menyelamatkan diri.

Gas detector sangatlah penting karena banyak gas kimia beracun yang mungkin menyatu dengan udara dan membahayakan keselamatan manusia, terlebih di tempat yang terekspos bahan-bahan kimia. Gas detector dapat digunakan untuk mendeteksi sekurang-kurangnya tiga hal: gas yang mudah menyulut api, gas beracun, dan penipisan oksigen.

Contoh gas – gas atau uap di udara yang di ukur :

1. Hidrokarbon.

2. Karbon monoksida (CO),

3. Karbon dioksda (C02),

4. Hidrogen Sulfida (H2S), dan

5. Oksigen (02).

Pemilihan Gas Detector yang tepat adalah :

1. Sesuai bahan yang akan diukur,

2. Etektif dan efisien,

3. Tingkat ketelitian yang tinggi.

4. Mudah dioperasikan,

5. Mudah dikalibrasi, dan

6. Suku cadang mudah di dapat.

Jenis Gas Detector terdiri dari :

1. Combutible 1 Flammable Gas Detector (Rxplosimeter)

2. Toxic Gas Detector

3. Oxygen Analyzer

4 CombInation Gas Detector

Deteksi Gas Mudah Terbakar (Flammable Gas Detector)

1. Flash Point. merupakan temperatur minimum dan suatu cairan yang membentuk campuran yang dapat terbakar. Adanya sumber api akan terjadi penyalaan sesaat

2. Auto Ignition Temperature, merupakan temperatur minimum suatu bahan dapat terbakar tanpa adanya sumber api.

Flammability Range

1. Explosive Limit (Flammability Range). adalah konsentrasi uap bahan di udara yang dapat terjadi kebakaran dengan adanya sumber api

2 Lower Explosive Limit (LEL), adalah konsentrasi uap di udara yang diperlukan untuk yang diperlukan untuk menjadikan kebakaran

3. Upper Exploswe Limit (UEL). adalah konsentrasi maksimum uap di udara dapat terbakar. Diatas konsentarsi maksimum api akan padam.

Explosimeter (Combustible / Flammable Gas Detector)

 

ALat yang digunakan untuk rnendeteksi dan mengukur kandungan gas atau uap suatu zat yang mudab menyala mudah terbakar di udara. terdiri dari :

Jenis-Jenis Detector Pemadam Kebakaran

Detector pemadam kebakaran adalah suatu alat yang berfungsi mendeteksi secara dini kebakaran, agar kebakaran yang terjadi tidak berkembang menjadi lebih besar. Dengan terdeteksinya cikal bakal kebakaran, maka intervensi untuk mematikan api dapat segera dilakukan. Sehingga dapat meminimalisasi kerugian sejak awal.

Jika dianalogikan detector pemadam kebakaran adalah alat bantu seperti panca indera kita. Untuk merasakan bau kita memiliki hidung, kalau untuk merasakan adanya kebakaran digunakanlah detector pemadam kebakaran. Deteksi kebakaran dilakukan pada kemunculan asap, kemunculan panas, dan adanya kobaran api.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka detector pemadam kebakaran dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain :

1. ROR (Rate of Rise) Heat DetectorHeat detector adalah pendeteksi kenaikan panas. Jenis ROR adalah yang paling banyak digunakan saat ini, karena selain ekonomis juga aplikasinya luas. Area deteksi sensor bisa mencapai 50m2 untuk ketinggian plafon 4m. Sedangkan untukplafon lebih tinggi, area deteksinya berkurang menjadi 30m2. Ketinggian pemasangan max. hendaknya tidak melebihi 8m. ROR banyak digunakan karena detector ini bekerja berdasarkan kenaikan temperatur secara cepat di satu ruangan kendati masih berupa hembusan panas. Umumnya pada titik 55oC – 63oC sensor ini sudah aktif dan membunyikan alarm bell kebakaran. Dengan begitu bahaya kebakaran (diharapkan) tidak sempat meluas ke area lain. ROR sangat ideal untuk ruangan kantor, kamar hotel, rumah sakit, ruang server, ruang arsip, gudang pabrik dan lainnya.

Prinsip kerja ROR sebenarnya hanya saklar bi-metal biasa. Saklar akan kontak saat mendeteksi panas. Karena tidak memerlukan tegangan (supply), maka bisa dipasang langsung pada panel alarm rumah. Dua kabelnya dimasukkan ke terminal Zone-Com pada panel alarm. Jika dipasang pada panel Fire Alarm, maka terminalnya adalah L dan LC. Kedua kabelnya boleh terpasang terbalik, sebab tidak memiliki plus-minus. Sedangkan sifatkontaknya adalah NO (Normally Open).

2. Fixed Temperature Detector

Fixed Temperature detector termasuk juga ke dalam Heat Detector. Berbeda dengan ROR, maka Fixed Temperature detector baru mendeteksi pada derajat panas yang langsung tinggi. Oleh karena itu cocok ditempatkan pada area yang lingkungannya memang sudah agak-agak “panas”, seperti: ruang genset, basement, dapur-dapur foodcourt, gudang beratap asbes, bengkel las dan sejenisnya. Alasannya, jika pada area itu dipasang ROR, maka akan rentan terhadap False Alarm (Alarm Palsu), sebab hembusan panasnya saja sudah bisa menyebabkan ROR mendeteksi. Area efektif detektor jenis ini adalah 30m2 (pada ketinggian plafon 4m) atau 15m2 (untuk ketinggian plafon antara 4 – 8m). Seperti halnya ROR, kabel yang diperlukan untuk detector ini cuma 2, yaitu L dan LC, boleh terbalik dan bisa dipasang langsung pada panel alarm rumah merk apa saja. Sifat kontaknya adalah NO (Normally Open).

3. Smoke Detector

Smoke detector adalah alat yang berfungsi mendeteksi asap. Ketika detector mendeteksi asap maka detektor akan segera mengirimkan sinyal sehingga fire alarm berbunyi. Smoke detektor sendiri memiliki beberapa type kerja :

Photoelectric / optical yaitu mendeteksi asap menggunakan sensor cahaya. cahaya (infra red) diarahkan ke sensor photoelectric, apabila ada asap maka cahaya tidak sepenuhnya diterima sensor photoelectric. kejadian ini ditangkap sebagai sinyal yang kemudian diteruskan ke fire alarm. Dari pengalaman lapangan diketahui kelemahan dari detektor ini adalah sering kali menimbulkan false alarm yang diakibatkan oleh debu.

Ionization yaitu detektor model ini menggunakan metode ionization chamber. kelemahan dari detektor ini adalah setelah habis umur pakainya, detektor dikategorikan limbah radioaktif, karena didalam detektor ini terdapat ameresium.

4. Flame Detector

Flame Detector adalah alat yang sensitif terhadap radiasi sinar ultraviolet yang ditimbulkan oleh nyala api. Tetapi detector ini tidak bereaksi pada lampu ruangan, infra merah atau sumber cahaya lain yang tidak ada hubungannya dengan nyala api (flame).

Flame detector memiliki tiga jenis type yaitu sensor optik, ionisasi dan thermocouple.

5.Detector Gas Detector

Sesuai dengan namanya detector ini mendeteksi kebocoran gas yang kerap terjadi di rumah tinggal. Alat ini bisa mendeteksi dua jenis gas, yaitu:

LPG : Liquefied Petroleum Gas.

LNG : Liquefied Natural Gas.

Dari dua jenis gas tersebut, Elpiji-lah yang paling banyak digunakan di rumah-rumah. Perbedaan LPG dengan LNG adalah: Elpiji lebih berat daripada udara, sehingga apabila bocor, gas akan turun mendekati lantai (tidak terbang ke udara). Sedangkan LNG lebih ringan daripada udara, sehingga jika terjadi kebocoran, maka gasnya akan terbang ke udara. Perbedaan sifat gas inilah yang menentukan posisi detector.Untuk LPG, maka letak detector adalah di bawah, yaitu sekitar 30 cm dari lantai dengan arah detector menghadap ke atas. Hal ini dimaksudkan agar saat bocor, gas elpiji yang 

 

Read 33424 times

Kontak Cepat

Andy Rifky
WA 
WA / XL 087885235999

Email: gmproteksi@gmail.com

Kantor Penjualan & Pemasaran 
      Komplek Taman Palem Mutiara Blok A15 No. 28
Cengkareng Jakarta Barat
Telp: (021) 54353513,
Faks: (021) 54355904

Jual Alat Pemadam Kebakaran Fire Indo

Jual Alat Pemadam Kebakaran Api 6 Kg Lokal - Top...
jual alat pemadam kebakaran Jual APAR Tabung Pemadam Api Powder 6 Kg atau Dry Chemical Powder 6, Kg merupakan kombinasi dari bahan kimia fosfat Mono-amonium dan ammonium sulphate. Yang berfungsi mengganggu reaksi kimia yang terjadi pada zona api yang terbakar, sehingga api dapat di padamkan. Dry... More detail
Jual Alat Pemadam Kebakaran 3 Kg Lokal - Antar...
Jual APAR Tabung Pemadam Api Powder 3 Kg atau Dry Chemical Powder SKP- 3 Kg - Antar Gratis, CepatMurah alat pemadam api  Dry Chemical Powder merupakan kombinasi dari bahan kimia fosfat Mono-amonium dan ammonium sulphate. Yang berfungsi mengganggu reaksi kimia yang terjadi pada zona api yang... More detail
Harga Pemadam Api Fire Indo
Alat pemadam api ringan adalah alat pemadam kebakaran api portable, cocok untuk di gunakan sebagai perlengkapan keselamatan untuk ruangan seperti kitchen lestoran, dapur umum, ruangan kantor, dan sejenis nya, untuk mengenal alat pemadam kebakaran api portable silakan lihat dan baca artikel ini,... More detail
Jual Alat Pemadam Portable
  MEDIA ALAT PEMADAM API RINGAN (APAR) 1. Dry Chemical Powder Dry Chemical powder merupakan kombinasi dari fosfat Mono-amonium dan ammonium sulphate. Yang fungsinya adalah bahwa hal itu mengganggu reaksi kimia yang terjadi pada zona pembakaran, sehingga api berhenti. Dry Chemical powder juga... More detail
prev
next

Jual Alat Pemadam Kebakaran Fire Indo (copy)

Jual Alat Safety - Sertifikat & Penghargaan
 PT. Global Mitra Proteksindo bergerak di bidang Fire Equipment Product dan Fire Protection System. Melayani Penjualan Produk Alat Pemadam Api, Fire Alarm System, Hydrant System, FM200 Fire Suppression System, Alat Alat Safety dan Refill Isi Ulang Alat Pemadam Api Ringan APAR/APAB, Sejak Tahun... More detail
prev
next

Live Visitor

Cari Artikel